NGUPING
nikmah nurbaity
Bepergian
naik angkutan umum bagi saya mempunyai keasyikan tersendiri. Sewaktu
menyelesaikan kuliah di pasca sarjana, saya harus naik bis umum dari kota saya Purworejo ke Jogjakarta, kurang lebih dua jam, berarti
pulang pergi 4 jam dan saya lakukan 3 kali seminggu. Sekarang melanjutkan ke
studi doctoral, saya juga memilih naik bis dari Purworejo ke Salatiga yang juga
butuh waktu dua jam dari rumah. Mengisi seminar yang agak jauh dari rumah dan
tempatnya mudah dijangkau dengan kendaraan umum, saya juga memilih naik bis
atau kereta api. Mengapa? Karena selain lebih praktis dan ekonomis, ternyata
mengasyikkan sekali. Ada
keuntungan yang tak tergantikan dan menggelikan yaitu nguping obrolan penumpang.
Sebenarnya
hobi nguping ini bermula tanpa sengaja. Artinya awalnya saya tidak sengaja dan
berniat saya mau naik bis umum karena mau nguping
obrolan penumpang, tidak sama sekali. Berkali kali naik bis kemudian menjadikan
nguping ini menjadi bagian dari perjalanan yang saya nikmati hehe. Sambil
menutup mata berusaha tidur walaupun sering tidak bisa benar benar tertidur
karena bis sering berhenti atau
berguncang guncang karena jalan yang tidak rata, antara sadar dan tidak sadar
karena mengantuk, telinga saya lama kelamaan terbiasa mendengar obrolan
penumpang yang kadang bahkan sering membuat saya harus menahan tawa atau
tersenyum simpul. Kebiasaan ini tanpa sengaja menjadi kebiasaan, begitu naik
bis , ambil posisi, menutup mata dan nguping.
Suatu
hari bis amat penuh, penumpang berdesak desakan, saya naik dari terminal
sehingga sudah mendapat tempat duduk. Di antara penumpang yang berdesak desakan tadi ada cewek yang manis. Dia
kelihatan berbeda dari penumpang yang lain, mungkin mahasiswa perguruan tinggi.
Diantara mereka ada juga cowok yang juga agak manis (saya tahu mereka manis
karena walaupun mata tertutup, saya kadang melirik juga sebentar) yang berdiri
dekat cewek yang manis tadi. Mungkin karena tidak tahan atau karena tertarik ,
si cowok bertanya nama dan mengajak berkenalan. Si cewek agak malas tapi tetap
santun juga menjawab pertanyaan si cowok. Lalu si cowok bertanya “mbak boleh
minta no hapenya?” si cewek menjawab jual mahal ”Nggak ah, nggak punya”
katanya. Si cowok menambahkan “ tapi kalau hp punya kan?”. Hahaha saya tertawa,
aduh mas.. mas, rayuanmu kok lucu.
Disuatu perjalan lainya ada sepasang wanita dan lelaki
muda yang nampaknya keren, dari baju yang dipakai dan cara bicaranya kelihatan
mereka dari keluarga kaya. Terdengar
percakapan si lelaki ketika menerima telpon ”aduh Ma, tempatnya di desa sekali.
Mana jauh dari kota. Kami harus tinggal di rumah penduduk untuk sementara. Tau
nggak Ma di kasurnya itu banyak binatangnya. Badanku bentol bentol semua. Aduh
Ma tak terbayangkan deh. Kata tetangga binatang itu namanya dalam bahasa Jawa “tinggi” kaya kutu tapi bulat, coklat dan
hitam. Wah seumur umur kita nggak pernah lihat binatang itu Ma. Besok tak bawakan ya Ma kalau aku pulang”.
Hahaha.. perut saya sampai sakit menahan tawa mendengar obrolan lelaki tadi
dengan mamanya lewat telpon yang terdengar sangat jelas di telinga. Saya tidak
sengaja mendengarkan lho.
Masih naik bis umum disuatu waktu ke kampus, saya
melakukan kegiatan rutin di perjalanan, ambil tempat duduk di pinggir dekat
jendela, menutup mata dan ..nguping. di bis pengamen bergantian datang dan
pergi menyanyikan lagu lagu yang kadang merdu kadang mengerikan, maksud saya
sebaiknya pengamen itu tidak usah menyanyi saja. Nah hari itu ketika saya dalam
posisi paling nyaman itu, saya dengar seorang pengamen bilang ”Bu, bu tidur kok
di dalam bis, apa nggak punya rumah!” Ha? Saya ingin sekali membuka mata dan
menjawab kata katanya untuk kalrifikasi bahwa saya menghemat tenaga selama dua
jam dengan tidur atau minimal pura pura tidur di bis supaya tidak banyak basi
basi dengan penumpang di sebelah dan sampai kampus sudah fresh lagi untuk
kuliah. Tapi saya memilih diam , menahan senyum dan nguping. Terdengar pengamen
tadi masih marah marah, “Kalau ada orang ngamen kok pura pura tidur ibu yang
satu ini”
Obrolan di bis sesama penumpang juga bervariasi, dari
politik, karier, rumah tangga sampai masalah cinta. Kadang hujatan politik juga
menjadi pembicaraan yang menggelikan karena disampaikan oleh penumpang yang
gayanya seperti diskusi panel di TV. Pernah obrolan tentang Miyabi membuat saya
harus melirik siapa yang berbicara. Ternyata bapak bapak setengah baya, wah
parah. Paling ramai ketika penumpang menjadi analis kebijakan publik, dari
harga cabai yang melangit sampai biaya pendidikan yang tidak berpihak kepada
masyarakat miskin. Obrolan itu bisa merupakan protret nyata dari grass root. Fakta dan informasi yang
tidak pernah ditutupi atau direkayasa demi kepentingan apapun. Nampaknya para
pejabat harus meluangkan waktu, menyamar sebagai rakyat biasa dan naik bis
untuk mendengarkan keluhan masyarakat yang sesungguhnya.
Rahasia keluarga merupakan obrolan secara bisik bisik penunpang ibu ibu. Tentang
suami yang tidurnya mendengkur sampai anak yang nakal. Saya senyum senyum sambil kadang berpikir wah
ibu ibu ini kaya host infotainment
saja. Ada juga yang ngobrol lewat telepon di bis kelewat keras, saya tidak tahu
sengaja untuk pamer atau tidak terbiasa bertelepon. Jadinya informasi jadi
sangat jelas bagi kuping saya.
Nah ada juga yang nampaknya mau merahasiakan
percapakannya, seorang wanita muda yang
nampaknya educated menggunakan bahasa Inggris. “Well honey,
please don’t be angry. I can’t meet u today but I promise we will meet next
week. wah..bu kalau pakai bahasa Inggris sudah banyak yang bisa walaupun di kota kecil, pakai bahasa
Jepang atau Mandarin saja Bu pasti aman, batin saya tertawa. . .