life is a choice, take the best and ready for the risk. Hidup adalah pilihan, pilihlah yang terbaik dan siaplah dengan resikonya :)

Thursday, October 12, 2017

HOW I AM WRITTEN BY A STUDENT :) THE WAY I TEACH



A CASE STUDY OF LANGUAGE TEACHING METHOD
 USED BY THE OUTSTANDING ENGLISH TEACHER
 OF SMA NEGERI 5 PURWOREJO IN THE ACADEMIC YEAR OF 2013/2014
nur samsiah

http://ejournal.umpwr.ac.id/index.php/scripta/article/view/1461

Abstract


The researcher wants to know what the language teaching method used by an English teacher of SMA Negeri 5 Purworejo who has a lot of achievements in her career as English teacher. She is Ms. Nikmah Nurbaity. Besides, the researcher wants to know whether there are unique things in English teaching learning process in her class. This research is a qualitative research. For observing the object of research, the researcher does it in 3 days (July, 20, 27, 31 2013). The place of this research is in SMA Negeri 5 Purworejo. The sampling technique of the research is uses the purposive and snowball sampling. The researcher interviews Ms. Nikmah and her students. The researcher uses the triangulation for data collecting (observation, interview, and documentation). The instrument in this research is human instrument that is the researcher herself. The researcher finds 8 language teaching methods used by Ms. Nikmah. They are The Grammar-Translation Method, Community Language Learning, Content-Based Learning, Multiple Intelligences, The Direct Method, Desuggestopedia, The Audio-Lingual Method, and The Silent Way. Besides, the researcher finds the unique things in teaching learning process in class of Ms. Nikmah. Such as, Ms. Nikmah does not use textbook to tell the narrative (story of Cinderella) and make it be up-to-date. For example, she changes the character in the story with her students. It makes the story more interesting.

Keywords: Language Teaching Method, the Outstanding English Teacher, the Unique Things
Full Text: XML

Saturday, October 7, 2017

GOT THE PRIZE FROM INTEL AS IT LITERATE PRINCIPAL

TEMPO InteraktifJakarta - Intel Indonesia memberikan penghargaan kepada 12 guru, kepala sekolah, dan pengawas dari sekolah negeri yang mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar mengajar.
Penghargaan tahunan dengan tema "Intel Education Awards" ini dilakukan oleh Intel Education Initiative dan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia, pada Senin, 15 Agustus 2011.
"Dua belas guru ini disaring dari 231 guru yang berasal dari 33 provinsi," kata Imelda Adhisaputra, Direktur Corporate Affairs Intel Indonesia di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2011.
Para guru itu melalui berbagai tahapan, termasuk wawancara dan prensentasi untuk memaparkan penerapan teknologi dalam metode belajar mengajar mereka.
Imelda mengatakan tahun ini adalah penganugrahan ketiga Intel Education Awards. Dari tahun ke tahun, ia mengatakan telah melihat banyak contoh luar biasa dari pendidik yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan hasil belajar mengajar.
Tahun ini misalnya, kata dia, ada guru dari Pulau Haruaku, Maluku, yang melakukan pemanfaatan teknologi meski dengan fasilitas terbatas, bahkan listrik disana pun tidak stabil.
Siti Zulaifah Sulaiman, Guru SMAN 3 Medan, pemenang Kategori Guru, mengatakan tidak ingin guru kalah bersaing dengan muridnya dalam pemanfaatan teknologi. "Kami selalu ditantang untuk selangkah lebih maju daripada murid. Teknologi membuat kami bisa memberikan lebih banyak untuk para murid," ujarnya.
Imelda mengatakan Intel Education Awards ini merupakan bagian dari Intel Teach Program yang menyediakan bimbingan teknologi bagi para pendidik untuk memanfaatkannya dalam proses belajar mengajar dan program ini telah melatih 75 ribu tenaga pengajar sejak diluncurkan empat tahun lalu.
Sementara itu, daftar pemenang Intel Education Awards antara lain:
Kategori Guru:
1. Siti Zulfah Sulaiman (SMAN 3 Medan, Sumatera Utara)
2. Mustafa, SST.Par, M.Pd (SMKN 4 Makassar, Sulawesi Selatan)
3. Dra. Herfen Suryati (SMA YPUDP Bontang,
Kalimantan Timur)
4. H. Imron Rosidi, S.Pd., M.Pd (SMKN 2 Pasuruan
Jawa Timur)
5. Nur Azizah, S.Pd, M.Si (SMAN 1 Koto Baru Dharmasraya, Sumatera Barat)
Kategori Kepala Sekolah dan Pengawas:
1. Drs. Tri Suharnowo, M.M (SMA YPHB Kota Bogor, Jawa Barat)
2. Nikmah Nurbaity, S.Pd, M.Pd (SMAN 5 Purworejo, Jawa Tengah)
3. Andi Candra, M.Pd (SMAN 1 Lebong Atas,
Bengkulu)
4. Drs. Ganda Santosa (Dinas Pendidikan Kab. Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan)
Kategori Pengajar Luar Biasa (PLB):
Solbi, S.Pd (SMALB Prof. Dr. Sri Soedewi,
Jambi)
Kategori Guru Berdedikasi:
Ali Tuasikal (SMAN 1 Pulau Haruku, Maluku)
Kategori Tutor Paket-C:
Raden Roro Vemmi Kesuma Dewi (PKBM Budaya
DKI Jakarta)

RATNANING ASIH

THE AWARD FROM THE PRESIDENT

https://www.jpnn.com/news/5-guru-dan-kepsek-berprestasi-terima-satyalencana5 Guru dan Kepsek Berprestasi Terima Satyalencana - JPNN.COM


JAKARTA--Sebanyak lima orang guru dan kepala sekolah berprestasi dan berdedikasi luar biasa dalam melaksanakan tugas profesionalnya mendapat anugerah Tanda Kehormatan Satyalencana Pendidikan dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2011 dan HUT PGRI ke-66 di Sentul International Convention Center, Bogor, Rabu (30/11).



Para guru dan kepala sekolah yang mendapat penghargaan tersebut, antara lain
Andul Hajar (guru SMAN 3 Makassar),
Herfen Suryati (guru YPVDP Bontang),
Imron Rosidi (guru SMKN 2 Pasuruan),
Mustafa (guru SMKN 4 Makassar) dan
Nikmah Nurbaity (Kepala Sekolah SMAN 5 Purworejo).

  
Acara yang dihadiri oleh jajaran Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, Gubernur Jawa Barat, Ketua Umum PGRI dan 4500 orang guru ini mengusung tema Meningkatkan Peran Strategis Guru untuk membangun karakter bangsa. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menerangkan, di dalam peringatan Hari Guru tahun ini diharapkan dapat lebih meningkatkan kesadaran dan komitmen guru terhafap budaya mutu di kalangan guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.


"Kita harus meneladani semangat dan dedikasi guru sebagai pendidik profesional dan bermartabat bagi semua anak bangsa. Hal ini untuk meningkatkan sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat akan pentingnya keuddukan dan peran strategis guru dalam membangun pendidikan karakter bangsa yang cerdas, komprehensif dan bermanfaat," jelas Nuh.


Selain itu, Mantan Rektor ITS ini menambahkan, selain diselenggarakan di tingkat nasional, peringatan Hari Guru Nasional juga digelar di tingkat propinsi, kabupaten/kota, dan sekolah/madrasah. Yakni, diisi dengan kegiatan forum ilmiah guru, seminar peningkatan profesionalisme guru.


ASIA EUROPEAN CLASSROOM PROJECT , WRITTEN IN KOMPAS


http://unisosdem.org/article_detail.php?aid=2882&coid=1&caid=52&gid=3


Konferensi Internasional Guru Asia Eropa III
Seretnya Kucuran Dana untuk Pertaruhan Citra Bangsa




KONFERENSI International Guru Asia-Eropa III (Third Asia-Europe Classroom International Teachers' Conference) di Bogor, 28 September-2 Oktober 2003, kembali memberi gambaran betapa tertinggalnya sistem pembelajaran di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain.

KETIKA UMUMNYA siswa negara-negara Asia -Eropa sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk berkomunikasi sarana pembelajaran, situasi berkutat dengan lagu lama. Sisa Indonesia masih dijejali kurikulum dan metode pembelajaran yang menempatkan guru sebagai ?dewa? di depan kelas.< kelas. p>
Dalam konferensi itu, para guru yang berasal dari 12 negara Asia-Eropa begitu antusias menawarkan konsep pembelajaran melalui Internet. Mereka berjumlah 78 orang, masing- masing dari Indonesia, Korea, Jepang, Cina, Singapura, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Finlandia, Jerman, dan Portugal.
Di depan forum, mereka tampil berkelompok mengajukan konsep pengajaran interaktif. Polanya, siswa antarsekolah saling berkirim data. Artinya, siswa diarahkan aktif mencari dan membuat bahan melalui rekaman gambar video atau uraian teori yang berdasar pada lokalitas. Modalnya tentu saja penguasaan bahasa Inggris dan penguasaan teknologi informasi (Internet).

Setiap kelompok terdiri dari beberapa guru dari negara berbeda. Para kelompok berlomba meyakinkan Asia-Europe Foundation (ASEF) bahwa proposal mereka layak dijalankan dan kelak berhak ikut konferensi selanjutnya dengan biaya ASEF. Seperti biasanya, dalam setiap konferensi akan ada penilaian terhadap proyek yang telah berjalan. Kelompok terbaik dijanjikan mendapat hadiah 2.500 Dollar AS. Rencananya, konferensi keempat (tahun 2004) berlangsung di Jerman.

Pada konferensi di Bogor kali ini, dibahas dan dinilai sembilan proposal. Tim penilai yang dimotori Zainal Arif Mantaha (dari ASEF) memutuskan tujuh yang layak dijalankan. Dua di antaranya melibatkan guru dari Indonesia.

Yang satu berjudul Sciene Beyond The Classroom, sebuah metode pembelajaran sains yang berbasis pada lingkungan masyarakat sekitar sekolah. Proposal ini melibatkan 11 guru dari tujuh negara, yakni Indonesia, Filipina, Malaysia, Brunei, Cina, Vietnam, Finlandia, dan Belanda. Guru dari Indonesia yang masuk dalam kelompok ini adalah Deny Suwarja, dari SLTP Negeri I Cibatu, Garut, Jawa Barat.

Proposal lain yang juga melibatkan guru dari Indonesia berjudul Student’s Magazine On-Line Journalistic for Kids. Di sini, guru-guru yang terlibat berasal dari Filipina, Swedia, dan Indonesia. Guru dari Indonesia adalah Yeni Artanti (Sekolah Madania, Parung, Bogor, Jawa Barat).
BAGI Yeni Artanti yang mengajar pada sekolah swasta kalangan elite, tentu saja tidak menemui hambatan berarti dalam menjalankan programnya. Maklum, Sekolah Madania yang dipimpin Prof Dr Komaruddin Hidayat punya lobi kuat ke lembaga-lembaga internasional. Ditambah lagi, orangtua siswanya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas.

Dan, yang tak kalah pentingnya, sistem pembelajaran di sekolah tersebut sudah menjadikan penguasaan bahasa Inggris dan penggunaan Internet sebagai "makanan" sehari-hari.
Namun sebaliknya bagi guru dari pelosok seperti Deny Suwarja yang bakal kelimpungan. Sebagai guru sekolah negeri dari daerah pelosok, dia kesulitan memperoleh dukungan biaya untuk menjalankan metode pembelajaran yang dipraktikkannya.

Buktinya, begitu konferensi usai, pria lulusan jurusan Biologi IKIP Bandung tersebut tidak langsung pulang kampung. Dia mencoba mendatangi Kantor Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta. Maksud sebetulnya bukan cuma sekadar mencari bantuan dana yang diperkirakan minimal Rp 50 juta untuk pengadaan komputer, kamera, dan akses Internet. Lebih dari itu, dia ingin menyampaikan bahwa dirinya dipercaya sebagai salah satu koordinator untuk kolaborasi pembelajaran yang melibatkan tujuh negara. "Ini satu kebanggaan bagi Indonesia, sekaligus tamparan jika Indonesia gagal menjalankannya," ujar Deny.

Namun, tak satu pun pejabat Depdiknas yang berkenan menemui Deny. Maka, pulanglah guru tersebut ke Garut dengan tangan hampa. Jika dari pemerintah pusat saja tidak ada tanggapan positif, tentulah mustahil menggantungkan harapan pada pemerintah Kabupaten Garut. Pasalnya, sebelum berangkat ke Bogor untuk konferensi pun, Deny sudah kesulitan menemui pejabat setempat. Biaya untuk mengikuti konferensi dirogoh dari kantongnya yang pas-pasan, dengan dukungan dari sekolah yang disebutnya "lumayan untuk uang jajan".

Kini, dengan tetap segumpal semangat dan harapan, dia giat menyusun proposal untuk diajukan ke lembaga-lembaga donor pendidikan. "Siapa tahu ada yang terketuk hatinya untuk membantu, minimal membiayai pengadaan komputer senilai sepuluh juta rupiah," ujarnya.
Kalaupun nanti upaya mencari bantuan dana menemui jalan buntu, Deny bertekad tetap jalan. Dia sudah punya rencana memanfaatkan warung Internet di sekitar sekolah.

Namun, kalau itu sampai terjadi, maka citra guru Indonesia di mata internasional mengalami kemunduran. Untuk diketahui, pada Konferensi Guru Asia-Eropa kedua di Finlandia (2001), Nikmah Nurbaity-guru SMU Negeri 7 Purworejo, Jawa Tengah-berhasil meloloskan proposalnya dan telah direalisasikan dengan sukses.
Berkat dukungan dana memadai dari Pemerintah Kabupaten Purworejo, Nikmah mampu menjalankan metode pembelajaran Bahasa Inggris secara multikultural. Sebanyak 20 unit komputer digunakan oleh 20 siswa pilihannya untuk bertukar informasi dengan pelajar Swedia. Siswa binaan Nikmah memberikan informasi rekaman gambar dan teks tentang Ndolalak, tarian tradisional rakyat Purworejo. Sebaliknya, siswa dari Swedia binaan Ulla Dahlstrom dan Torbjorn Larsson mengirimkan gambar dan teks tentang Hambo, tarian tradisional rakyat Swedia.

Akankah citra bangsa dipertaruhkan dengan seretnya kucuran dana dari pemerintah dan lembaga donor? Moga-moga tidak. (Nasrullah Nara)