|
http://unisosdem.org/article_detail.php?aid=2882&coid=1&caid=52&gid=3
Konferensi Internasional Guru Asia Eropa III Seretnya Kucuran Dana untuk Pertaruhan Citra Bangsa |
|||
|
|
|||
|
KONFERENSI
International Guru Asia-Eropa III (Third Asia-Europe Classroom International
Teachers' Conference) di Bogor, 28 September-2 Oktober 2003, kembali memberi
gambaran betapa tertinggalnya sistem pembelajaran di Indonesia dibandingkan
dengan negara-negara lain.
KETIKA UMUMNYA siswa
negara-negara Asia -Eropa sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk
berkomunikasi sarana pembelajaran, situasi berkutat dengan lagu lama. Sisa
Indonesia masih dijejali kurikulum dan metode pembelajaran yang menempatkan
guru sebagai ?dewa? di depan kelas.< kelas. p>
Dalam konferensi itu,
para guru yang berasal dari 12 negara Asia-Eropa begitu antusias menawarkan
konsep pembelajaran melalui Internet. Mereka berjumlah 78 orang, masing-
masing dari Indonesia, Korea, Jepang, Cina, Singapura, Vietnam, Filipina,
Brunei Darussalam, Malaysia, Finlandia, Jerman, dan Portugal.
Di depan forum, mereka
tampil berkelompok mengajukan konsep pengajaran interaktif. Polanya, siswa
antarsekolah saling berkirim data. Artinya, siswa diarahkan aktif mencari dan
membuat bahan melalui rekaman gambar video atau uraian teori yang berdasar
pada lokalitas. Modalnya tentu saja penguasaan bahasa Inggris dan penguasaan
teknologi informasi (Internet).
Setiap kelompok
terdiri dari beberapa guru dari negara berbeda. Para kelompok berlomba
meyakinkan Asia-Europe Foundation (ASEF) bahwa proposal mereka layak
dijalankan dan kelak berhak ikut konferensi selanjutnya dengan biaya ASEF.
Seperti biasanya, dalam setiap konferensi akan ada penilaian terhadap proyek
yang telah berjalan. Kelompok terbaik dijanjikan mendapat hadiah 2.500 Dollar
AS. Rencananya, konferensi keempat (tahun 2004) berlangsung di Jerman.
Pada konferensi di
Bogor kali ini, dibahas dan dinilai sembilan proposal. Tim penilai yang
dimotori Zainal Arif Mantaha (dari ASEF) memutuskan tujuh yang layak
dijalankan. Dua di antaranya melibatkan guru dari Indonesia.
Yang satu berjudul
Sciene Beyond The Classroom, sebuah metode pembelajaran sains yang berbasis
pada lingkungan masyarakat sekitar sekolah. Proposal ini melibatkan 11 guru
dari tujuh negara, yakni Indonesia, Filipina, Malaysia, Brunei, Cina,
Vietnam, Finlandia, dan Belanda. Guru dari Indonesia yang masuk dalam
kelompok ini adalah Deny Suwarja, dari SLTP Negeri I Cibatu, Garut, Jawa
Barat.
Proposal lain yang
juga melibatkan guru dari Indonesia berjudul Student’s Magazine On-Line
Journalistic for Kids. Di sini, guru-guru yang terlibat berasal dari
Filipina, Swedia, dan Indonesia. Guru dari Indonesia adalah Yeni Artanti
(Sekolah Madania, Parung, Bogor, Jawa Barat).
BAGI Yeni Artanti yang
mengajar pada sekolah swasta kalangan elite, tentu saja tidak menemui
hambatan berarti dalam menjalankan programnya. Maklum, Sekolah Madania yang
dipimpin Prof Dr Komaruddin Hidayat punya lobi kuat ke lembaga-lembaga
internasional. Ditambah lagi, orangtua siswanya berasal dari kalangan ekonomi
menengah ke atas.
Dan, yang tak kalah
pentingnya, sistem pembelajaran di sekolah tersebut sudah menjadikan
penguasaan bahasa Inggris dan penggunaan Internet sebagai "makanan"
sehari-hari.
Namun sebaliknya bagi
guru dari pelosok seperti Deny Suwarja yang bakal kelimpungan. Sebagai guru
sekolah negeri dari daerah pelosok, dia kesulitan memperoleh dukungan biaya
untuk menjalankan metode pembelajaran yang dipraktikkannya.
Buktinya, begitu
konferensi usai, pria lulusan jurusan Biologi IKIP Bandung tersebut tidak
langsung pulang kampung. Dia mencoba mendatangi Kantor Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta. Maksud sebetulnya bukan cuma
sekadar mencari bantuan dana yang diperkirakan minimal Rp 50 juta untuk
pengadaan komputer, kamera, dan akses Internet. Lebih dari itu, dia ingin
menyampaikan bahwa dirinya dipercaya sebagai salah satu koordinator untuk
kolaborasi pembelajaran yang melibatkan tujuh negara. "Ini satu
kebanggaan bagi Indonesia, sekaligus tamparan jika Indonesia gagal
menjalankannya," ujar Deny.
Namun, tak satu pun
pejabat Depdiknas yang berkenan menemui Deny. Maka, pulanglah guru tersebut
ke Garut dengan tangan hampa. Jika dari pemerintah pusat saja tidak ada
tanggapan positif, tentulah mustahil menggantungkan harapan pada pemerintah
Kabupaten Garut. Pasalnya, sebelum berangkat ke Bogor untuk konferensi pun,
Deny sudah kesulitan menemui pejabat setempat. Biaya untuk mengikuti
konferensi dirogoh dari kantongnya yang pas-pasan, dengan dukungan dari
sekolah yang disebutnya "lumayan untuk uang jajan".
Kini, dengan tetap
segumpal semangat dan harapan, dia giat menyusun proposal untuk diajukan ke
lembaga-lembaga donor pendidikan. "Siapa tahu ada yang terketuk hatinya
untuk membantu, minimal membiayai pengadaan komputer senilai sepuluh juta
rupiah," ujarnya.
Kalaupun nanti upaya
mencari bantuan dana menemui jalan buntu, Deny bertekad tetap jalan. Dia
sudah punya rencana memanfaatkan warung Internet di sekitar sekolah.
Namun, kalau
itu sampai terjadi, maka citra guru Indonesia di mata internasional mengalami
kemunduran. Untuk diketahui, pada Konferensi Guru Asia-Eropa kedua di
Finlandia (2001), Nikmah Nurbaity-guru SMU
Negeri 7 Purworejo, Jawa Tengah-berhasil meloloskan proposalnya
dan telah direalisasikan dengan sukses.
Berkat
dukungan dana memadai dari Pemerintah Kabupaten Purworejo, Nikmah mampu
menjalankan metode pembelajaran Bahasa Inggris secara multikultural. Sebanyak
20 unit komputer digunakan oleh 20 siswa pilihannya untuk bertukar informasi
dengan pelajar Swedia. Siswa binaan Nikmah memberikan informasi rekaman
gambar dan teks tentang Ndolalak, tarian tradisional rakyat Purworejo.
Sebaliknya, siswa dari Swedia binaan Ulla Dahlstrom dan Torbjorn Larsson
mengirimkan gambar dan teks tentang Hambo, tarian tradisional rakyat Swedia.
|
|||
|
|
|||
life is a choice, take the best and ready for the risk. Hidup adalah pilihan, pilihlah yang terbaik dan siaplah dengan resikonya :)
Saturday, October 7, 2017
ASIA EUROPEAN CLASSROOM PROJECT , WRITTEN IN KOMPAS
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment