life is a choice, take the best and ready for the risk. Hidup adalah pilihan, pilihlah yang terbaik dan siaplah dengan resikonya :)

Saturday, October 7, 2017

ASIA EUROPEAN CLASSROOM PROJECT , WRITTEN IN KOMPAS


http://unisosdem.org/article_detail.php?aid=2882&coid=1&caid=52&gid=3


Konferensi Internasional Guru Asia Eropa III
Seretnya Kucuran Dana untuk Pertaruhan Citra Bangsa




KONFERENSI International Guru Asia-Eropa III (Third Asia-Europe Classroom International Teachers' Conference) di Bogor, 28 September-2 Oktober 2003, kembali memberi gambaran betapa tertinggalnya sistem pembelajaran di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain.

KETIKA UMUMNYA siswa negara-negara Asia -Eropa sudah memanfaatkan teknologi informasi untuk berkomunikasi sarana pembelajaran, situasi berkutat dengan lagu lama. Sisa Indonesia masih dijejali kurikulum dan metode pembelajaran yang menempatkan guru sebagai ?dewa? di depan kelas.< kelas. p>
Dalam konferensi itu, para guru yang berasal dari 12 negara Asia-Eropa begitu antusias menawarkan konsep pembelajaran melalui Internet. Mereka berjumlah 78 orang, masing- masing dari Indonesia, Korea, Jepang, Cina, Singapura, Vietnam, Filipina, Brunei Darussalam, Malaysia, Finlandia, Jerman, dan Portugal.
Di depan forum, mereka tampil berkelompok mengajukan konsep pengajaran interaktif. Polanya, siswa antarsekolah saling berkirim data. Artinya, siswa diarahkan aktif mencari dan membuat bahan melalui rekaman gambar video atau uraian teori yang berdasar pada lokalitas. Modalnya tentu saja penguasaan bahasa Inggris dan penguasaan teknologi informasi (Internet).

Setiap kelompok terdiri dari beberapa guru dari negara berbeda. Para kelompok berlomba meyakinkan Asia-Europe Foundation (ASEF) bahwa proposal mereka layak dijalankan dan kelak berhak ikut konferensi selanjutnya dengan biaya ASEF. Seperti biasanya, dalam setiap konferensi akan ada penilaian terhadap proyek yang telah berjalan. Kelompok terbaik dijanjikan mendapat hadiah 2.500 Dollar AS. Rencananya, konferensi keempat (tahun 2004) berlangsung di Jerman.

Pada konferensi di Bogor kali ini, dibahas dan dinilai sembilan proposal. Tim penilai yang dimotori Zainal Arif Mantaha (dari ASEF) memutuskan tujuh yang layak dijalankan. Dua di antaranya melibatkan guru dari Indonesia.

Yang satu berjudul Sciene Beyond The Classroom, sebuah metode pembelajaran sains yang berbasis pada lingkungan masyarakat sekitar sekolah. Proposal ini melibatkan 11 guru dari tujuh negara, yakni Indonesia, Filipina, Malaysia, Brunei, Cina, Vietnam, Finlandia, dan Belanda. Guru dari Indonesia yang masuk dalam kelompok ini adalah Deny Suwarja, dari SLTP Negeri I Cibatu, Garut, Jawa Barat.

Proposal lain yang juga melibatkan guru dari Indonesia berjudul Student’s Magazine On-Line Journalistic for Kids. Di sini, guru-guru yang terlibat berasal dari Filipina, Swedia, dan Indonesia. Guru dari Indonesia adalah Yeni Artanti (Sekolah Madania, Parung, Bogor, Jawa Barat).
BAGI Yeni Artanti yang mengajar pada sekolah swasta kalangan elite, tentu saja tidak menemui hambatan berarti dalam menjalankan programnya. Maklum, Sekolah Madania yang dipimpin Prof Dr Komaruddin Hidayat punya lobi kuat ke lembaga-lembaga internasional. Ditambah lagi, orangtua siswanya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas.

Dan, yang tak kalah pentingnya, sistem pembelajaran di sekolah tersebut sudah menjadikan penguasaan bahasa Inggris dan penggunaan Internet sebagai "makanan" sehari-hari.
Namun sebaliknya bagi guru dari pelosok seperti Deny Suwarja yang bakal kelimpungan. Sebagai guru sekolah negeri dari daerah pelosok, dia kesulitan memperoleh dukungan biaya untuk menjalankan metode pembelajaran yang dipraktikkannya.

Buktinya, begitu konferensi usai, pria lulusan jurusan Biologi IKIP Bandung tersebut tidak langsung pulang kampung. Dia mencoba mendatangi Kantor Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta. Maksud sebetulnya bukan cuma sekadar mencari bantuan dana yang diperkirakan minimal Rp 50 juta untuk pengadaan komputer, kamera, dan akses Internet. Lebih dari itu, dia ingin menyampaikan bahwa dirinya dipercaya sebagai salah satu koordinator untuk kolaborasi pembelajaran yang melibatkan tujuh negara. "Ini satu kebanggaan bagi Indonesia, sekaligus tamparan jika Indonesia gagal menjalankannya," ujar Deny.

Namun, tak satu pun pejabat Depdiknas yang berkenan menemui Deny. Maka, pulanglah guru tersebut ke Garut dengan tangan hampa. Jika dari pemerintah pusat saja tidak ada tanggapan positif, tentulah mustahil menggantungkan harapan pada pemerintah Kabupaten Garut. Pasalnya, sebelum berangkat ke Bogor untuk konferensi pun, Deny sudah kesulitan menemui pejabat setempat. Biaya untuk mengikuti konferensi dirogoh dari kantongnya yang pas-pasan, dengan dukungan dari sekolah yang disebutnya "lumayan untuk uang jajan".

Kini, dengan tetap segumpal semangat dan harapan, dia giat menyusun proposal untuk diajukan ke lembaga-lembaga donor pendidikan. "Siapa tahu ada yang terketuk hatinya untuk membantu, minimal membiayai pengadaan komputer senilai sepuluh juta rupiah," ujarnya.
Kalaupun nanti upaya mencari bantuan dana menemui jalan buntu, Deny bertekad tetap jalan. Dia sudah punya rencana memanfaatkan warung Internet di sekitar sekolah.

Namun, kalau itu sampai terjadi, maka citra guru Indonesia di mata internasional mengalami kemunduran. Untuk diketahui, pada Konferensi Guru Asia-Eropa kedua di Finlandia (2001), Nikmah Nurbaity-guru SMU Negeri 7 Purworejo, Jawa Tengah-berhasil meloloskan proposalnya dan telah direalisasikan dengan sukses.
Berkat dukungan dana memadai dari Pemerintah Kabupaten Purworejo, Nikmah mampu menjalankan metode pembelajaran Bahasa Inggris secara multikultural. Sebanyak 20 unit komputer digunakan oleh 20 siswa pilihannya untuk bertukar informasi dengan pelajar Swedia. Siswa binaan Nikmah memberikan informasi rekaman gambar dan teks tentang Ndolalak, tarian tradisional rakyat Purworejo. Sebaliknya, siswa dari Swedia binaan Ulla Dahlstrom dan Torbjorn Larsson mengirimkan gambar dan teks tentang Hambo, tarian tradisional rakyat Swedia.

Akankah citra bangsa dipertaruhkan dengan seretnya kucuran dana dari pemerintah dan lembaga donor? Moga-moga tidak. (Nasrullah Nara)




No comments:

Post a Comment